Ittiba’ Bukan Merupakan Pilihan, Tapi Keharusan

Agustus 5, 2011 at 9:20 am (Kaidah)

Hampir setiap barang elektronik memiliki petunjuk pemakaian yang jelas. Sehingga pemakai dapat meminimalisir kesalahan penggunaan alat elektronik tersebut. Begitu pula ajaran Islam ini, maka sesungguhnya Allah telah sempurnakan agama ini dengan petunjuk yang jelas berupa Al-Qur’an dan As Sunnah. Allah ta’ala berfirman :

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.1

 Yang disebut sempurna adalah tidak membutuhkan tambahan dan tidak pula pengurangan. Dan yang menyatakan kesempurnaan islam adalah Allah, Zat yang menciptakan langit dan bumi, maka apakah kita ragu dengan kesempurnaan islam ?!

 Jika ada yang beralasan, zaman di utusnya rosul hingga zaman sekarang sudah jauh terpisah, lalu apakah masih mungkin ajaran islam masih utuh seperti pada awalnya?…

Maka jawabannya adalah, Allah sendiri yang menjamin ajaran islam ini, Allah subhanahuwata’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. 2

Bentuk pemeliharaan Al Qur’an meliputi lafaz dan maknanya3. Dan salah satu penjelas Al-Qur’an adalah hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dapat dikatakan Hadits Nabi juga dijaga oleh Allah karena berperan sebagai penjelas dari Al-Qur’an.

Namun sebagian kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa dalam beramal, yang penting niatnya baik, walaupun mungkin hal tersebut tidak ada contohnya dari nabi…

Maka kami sampaikan sebuah hadits berikut ini sebagai jawabannya :

جاَءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا، فَقَالُوْا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَا أَنَا فَأَناَ أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا. وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ. وَقاَلَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أبَدًا. فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Datang tiga orang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala mereka diberitahu tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seakan-akan mereka merasa bahwa ibadah tersebut sedikit, maka mereka berkata, “Dimana kita jika dibanding dengan Nabi shalalllahu ‘alahi wa sallam? Ia telah dimaafkan dosa-dosanya oleh Allah baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Seorang di antara mereka berkata, “Adapun aku, maka aku akan sholat malam selama-lamanya.” Yang lainnya berkata, “Saya akan puasa dahr(setiap hari) dan aku tidak akan pernah buka.” Dan berkata yang lainnya, “Aku akan menjauhi para wanita, dan aku tidak akan menikah selama-lamanya.” Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian yang telah berkata demikian dan demikian? Ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah daripada kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan tidur, dan aku menikahi para wanita. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”4

Pada hadits tersebut tiga orang yang datang ke istri nabi, ingin mengerjakan amalan yang mereka anggap baik, yaitu sholat malam, berpuasa, dan meninggalkan syahwat untuk beribadah. Namun hal tersebut diingkari oleh rosulullah, karena tidak sesuai dengan tata cara yang telah diajarkan oleh rosul. Sehingga hadits ini menunjukkan kepada kita wajibnya bersikap Ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan dalam hadits yang lain, secara tegas sabda rosulullah yang menunjukkan tertolaknya seluruh amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan rosul.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan satu amalan yang tidak termasuk agama kami, maka amalan itu tertolak”5

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Semua bid’ah itu adalah sesat”6

Ajaran islam diutus pertama kali kepada Nabi Muhammad ditengah-tengah para sahabatnya. Sehingga tentu pemahaman terhadap Al-Qur’an yang paling benar adalah pemahaman yang dipahami oleh Nabi dan para sahabatnya. Oleh karena itu marilah kita kembali kepada pemahaman mereka, orang-orang yang telah mendapat keridhoan Allah ta’ala dan meninggalkan pendapat-pendapat selain mereka yang menyelisihinya.

Diselesaikan di bulan Ramadhan 1432 H

1QS. Al-Maaidah : 3

2 QS. Al-Hijr: 9

3Lihat tafsir ayat ini dalam tafsir Syaikh As-Sa’di

4HR. Bukhari no 5063 & Muslim 1401

5HR. Muslim no. 1718

6HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.